KELOMPOK : 5
MATERI :
KHALIFAH TURKI USMANI (1512-1924 M)
NO
|
NAMA
|
FOTO
|
DEFINISI
|
1.
|
SULTAN SALIM I (1512-1520 M)
|
|
Salim I dilahirkan di Amasya tahun 1465. Ayahnya adalah Sultan
Bayazid II (1481-1512). Ibunya bernama Ayşe Hatun dari Dulkadir. Pada tanggal
25 April 1512. Salim I, ia sangat kejam, dalam sejarah Eropa
dikenal sebagai Salim the Grim. Ia menaklukkan Asia Kecil, Persia, Kaldiran,
dan Mesir. Dan juga berhasil menaklukkan Sultan Mamluk (1517 M). ia
memindahkan Khalifah boneka Bani Abbas ke Konstantinopel yang bernama Ahmad
dan mengambil gelar secara sakral yang kemudian digunakan oleh sultan Turki,
Salim I, sehingga kota tersebut berubah menjadi Istambul.
|
2.
|
SULAIMAN AGUNG (1520-1566 M)
|
|
Sulaiman Agung (1520-1566), mendapat julukan
Sulaiman al-Qanuni, pada masanya disusun sebuah kitab undang-undang (qanun),
Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur dan berhasil membawa kejayaan
islam, dan ia pula berhasil menterjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Turki.
Sulaiman jug berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunis,
Budapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani pada masanya
mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir,
Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; Bulgaria,Yunani, Yugoslavia, Albania,
Hongaria, dan Rumania di Eropa.
|
3.
|
SULTAN SELIM II (1566-1573 M)
|
|
Selim II (bahasa Turki Ottoman: سليم ثانى Selīm-i sānī, bahasa
Turki: II. Selim) (28 Mei 1524 – 12 Desember 1574) adalah Sultan Turki
Ottoman dari 1566
hingga kematiannya. Ia adalah putra Suleiman yang Agung (1520–66) dan isteri
kesayangannya Roxelana
(juga Hurrem atau Anastasia Lisovska) Salim II
(1566-1573 M), Di masa pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut
Kerajaan Usmani dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan laut
Spanyol, angkatan laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus, dan sebagian kapal
para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol.
|
4.
|
SULTAN MURAD III (1574-1595 M)
|
|
Murad III (bahasa Turki
Ottoman: مراد ثالث Murād-i sālis, bahasa Turki:III.Murat) (4 Juli 1546
– 15 Januari 1595)
adalah Sultan Turki Utsmani dari 1574
hingga kematiannya.Murad III adalah putera sulung sultan Selim II (1566–74) dan valide
sultan Nur-Banu
(lahir Cecilia Venier-Baffo) dan menggantikan ayahandanya pada 1574. Sultan Murad III (1574-1595 M) berkepribadian
jelek dan suka memperturutkan hawa nafsunya, namun Kerajaan Usmani pada
masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577
M), merampas kembali Tabnz, ibu kota Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri
urusan dalam negeri Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593
M. Namun kehidupan moral Sultan yangjelek menyebabkan timbulnya kekacauan dalam
negeri.
|
5.
|
SULTAN MUHAMMAD III (1595-1603 M)
|
|
Sultan Muhammad III (1595-1603M),
pengganti Murad III, yang membunuh semua saudara laki-lakinya berjumlah 19
orang dan menenggelamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10 orang demi
kepentingan pribadi. Dalam situasi yang kurang baik itu, Austria berhasil
memukul Kerajaan Usmani.
|
6.
|
SULTAN AHMAD I (1603-1617 M)
|
|
Sultan
Ahmad I ( 1603-1617 M), situasi semakin memburuk dengan naiknya Mustafa I
(masa pemerintahannya yang pertama (1617-1618 M) dan kedua, (1622-1623 M).
Karena gejolak politik dalam negeri tidak bisa diatasinya, Syaikh al-Islam
mengeluarkan fatwa agar ia turun dari tahta
|
7.
|
MUSTAFA I (1617-1618 M)
|
|
Mustafa I (1592 – 20 Januari 1639) (bahasa Arab: مصطفى الأول) adalahSultan Turki
Utsmani dari 1617 hingga 1618 dan dari 1622 hingga 1623. Saudara Ahmed I (1603–17), Mustafa I dilaporkan
menderita retardasi mental atau setidaknya mengidap penyakit saraf dan tak
pernah lebih dari seprangkat klik pengadilan di Istana Topkapı. Semasa pemerintahan saudaranya, ia
dikurung di ruangannya dalam penjara sesungguhnya selaam 14 tahun.
|
8.
|
USMAN II (1618-1622 M)
|
|
Usman II
(1618-1622 M). Namun yang tersebut terakhir ini juga tidak mampu memperbaiki
keadaan. Dalam situasi demikian bangsa Persia bangkit mengadakan perlawanan
merebut wilayahnya kembali. Kerajaan Usmani sendiri tidak mampu berbuat
banyak dan terpaksa melepaskan wilayah Persia tersebut.
|
9.
|
MUSTAFA I (1622-1623 M)
|
|
kedua, (1622-1623 M). Karena
gejolak politik dalam negeri tidak bisa diatasinya, Syaikh al-Islam
mengeluarkan fatwa agar ia turun dari tahta
|
10.
|
SULTAN MURAD IV (1623-1640 M)
|
|
Sultan murad IV lahir pada tanggal 26 juli 1612 M, dan meninggal pada
tanggal 09 february 1640 (umur 27 tahun).Sultan Murad IV (1623 – 1640 M). Pertama-tama ia mencoba
menyusun dan menertibkan pemerintahan. Pasukan Jenissari’ yang pernah
menumbangkan Usman II dapat dikuasainya. Akan tetapi, masa pemerintahannya
berakhir sebelum ia berhasil menjernihkan situasi negara secara
|
11.
|
SULTAN IBRAHIM (1640-1648 M)
|
Ibrahim (5 November 1615 – Istanbul, 12/18 Agustus 1648) adalah Sultan Turki Usmani dari 1640 hingga
1648. Secara tidak resmi ia sering disebut sebagai Ibrahim yang Gila
(bahasa Turki: Deli Ibrahim) karena keadaan jiwanya. Salah satu Sultan
Ottoman yang terkenal, ia dibebaskan dari Kafes dan menggantikan kakandanya Murad IV (1623–40)
pada tahun 1640, Ia dikenal tergoda dengan wanita gemuk, Awalnya
Ibrahim meninggalkan politik, namun akhirnya ia mengadakan peningkatan dan
hukuman mati sejumlah wazir. Perang dengan Venesia dikumabdangkan,
dan meski La Serenissima turun, kapal-kapal Venesia menang
perang sepanjang Aegea, merebut Tenedos (1646),pintu
gerbang Laut Dardanella. Pemerintahan Ibrahim berkembang lebih pesat dari
yang diperkirakan. Akhirnya, ia dijatuhkan di sebuah kudeta yang
dipimpin oleh Mufti
Agung. Ada
cerita meragukan bahwa Mufti Agung berbuat demikian karena keputusan Ibrahim
menenggelamkan 280 orang-orang harem
|
|
12.
|
SULTAN MEHMED IV / MOHAMMED IV (1648-1687 M)
|
Mehmed IV juga dikenal sebagai Mohammed IV (bahasa Arab محمد
الرابع) (lahir 2 Januari 1642, mangkat 1693) adalah
sultan Turki
Ottoman dari 1648 hingga 1687. Ia
adalah putra Sultan İbrahim I dan
permaisurinya Turhan
Hadice
|
|
13.
|
SULTAN SULEIMAN II (1620-1666)
|
Suleiman
II (15 April 1642 – 1691) (bahasa
Turki Utsmani: سليمان
ثانى Süleymān-i sānī) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1620 hingga
1666. Adinda Mehmed IV (1648–87), Suleiman II menghabiskan sebagian besar
hidupnya di kafes (sangkar), sejenis tahanan mewah buat pangeran di Istana Topkapı (dirancang untuk memastikan takkan ada
pemberontakan). Saat didekati naik tahta setelah terdepaknya kakandanya pada
1687, Suleiman II mengira bahwa delegasi itu akan datang membunuhnya dan
satu-satunya cara memengaruhi adalah ia bisa digoda keluar istananya untuk
bersiap dianugerahi pedang khalifah secara
seremonial. Sulit mengendalikan diri, Suleiman II membuat pilihan cerdas
dengan mengangkat Ahmed Faizil Köprülü sebagai Raja Muda. Di bawah
kepemimpinan Köprülü Turki menghambat gerak maju Austria ke Serbia dan
membasmi pemberontakan di Bulgaria. Selama
gerakan mengambil kembali Hongaria timur,
Köprülü dikalahkan dan syahid di tangan Ludwig Wilhelm dari Baden dalam Szlankamen pada 1690.
|
|
14.
|
SULTAN AHMED II (1691-1695 M)
|
Ahmed II (bahasa
Turki Ottoman: احمد
ثانى Aḥmed-i sānī) (25 Februari 1643 – 1695) adalah Sultan Turki Ottoman dari 1691 hingga
1695. Ahmed II adalah putra Sultan Ibrahim I (1640–48)
dan menggantikan saudaranya Suleiman II (1687–91)
pada 1691. Tindakan Ahmed II yang banyak diingat adalah pengangkatan Mustafa Köprülü sebagai raja muda. Hanya
beberapa minggu setelah kenaikannya Kesultanan
Ottoman mendapat
kekalahan besar dalam Pertempuran Slankamen dari Austria di bawah Ludwig Wilhelm dari Baden dan
dipukul ke Hongaria. Selama 4 tahun masa pemerintahannya bencana demi
bencana terus melanda negerinya, dan pada 1695 Ahmed II meninggal, lelah
akibat penyakit dan kedukaan.
|
|
15.
|
SULTAN MUSTHOFA II (1695-1703 M)
|
Mustafa II (bahasa
Turki Utsmani: مصطفى
ثانى Muṣṭafā-yi sānī; lahir 6 Februari 1664 – meninggal 28 Desember1703 pada umur 39 tahun) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1695 hingga 1703. Ia adalah putra sultan Mehmet IV(1648–87) dan turun tahta demi
kepentingan saudaranya Ahmed III (1703–30) pada 1703. Di akhir
kekuasaannya, Mustafa II mencoba memperbaiki kekuasaan, yang hanya menjadi
jabatan simbolis sejak pertengahan 1600-an, saat Mehmed IV memberikan kekuasaannya
pada Raja Muda. Strategi Mustafa II adalah menciptakan dasar alternatif
baginya membuat kedudukan timar,
anggota kavaleri Kesultanan
Ottoman, setia
padanya. Namun, timar-timar itu, pada titik ini bertambah menjadi bagian
usang mesin militer Turki Utsmani. Strategi itu (disebut "kejadian Edirne"
oleh sejarawan) gagal, dan Mustafa II didepak pada tahun yang sama, 1703.
|
|
16.
|
SULTAN AHMED III (1703-1730 M)
|
Ahmed III (30 Desember 1673 – 1 Juli 1736) adalah khalifah Turki Usmani
dan putra Sultan Mehmed IV. Naik tahta berkat Bâb-ı
Âli pada tahun 1703 setelah mundurnya
saudaranya Mustafa II.Ahmed membangun hubungan baik dengan Inggris,
mengingat ancaman Rusia. Negaranya memberikan perlindungan pada Raja Karl XII dari Swedia yang
kalah perang dalam Pertempuran
Poltava pada tahun 1709 pada zaman Tsar Pyotr Agung.
Karena harapannya untuk berperang mewanan Rusia, sultan ini mengumumkan perang
terhadap saingannya di utara, di bawah pimpinan Wazir Agung
Baltaji Mahommed Paşa pasukan Turki berhasil memaksa Rusia bertekuk lutut
di Sungai Prut tahun 1711.Perang itu diakhiri
dengan perjanjian yang menuntut pengembalian Azov kepada Turki,
penghancuran sejumlah benteng yang dibangun untuk Rusia, sedangkan Tsar
berjanji untuk berhenti ikut campur dalam urusan Persemakmuran
Polandia-Lituania. Harapan Sultan
untuk berjalan menerobos Moskow hampir saja berhasil kalau saja tidak ada serangan Safavid ke negaranya.Serangan Persia
menimbulkan kekacauan di dalam negeri, menimbulkan pemberontakan Yennisari, yang menyebabkannya turun tahta pada bulan
September 1730. Ia
mangkat dalam tahanan 5 tahun kemudian. Pemerintahan Ahmed III, yang
berlangsung selama 27 tahun, meski ditandai dengan bencana Perang Turki Besar, tidak
berhasil karena daerah Balkan terpaksa hilang ke tangan Monarki Habsburg. Di masanya, keuangan Turki berjalan baik, diperoleh tanpa pajak berlebihan maupun
PungLi. Di masa pemerintahannya pula, terjadi perubahan penting di Kepangeranan Donau. |
|
17.
|
SULTAN MAHMUD I (1730-1754 M)
|
Mahmud I (bahasa Arab
محمودالأول) (2 Agustus 1696 – 13 Desember 1754) adalah Sultan Kesultanan Usmaniyah dari 1730 hingga 1754. Ia adalah
putera Mustafa
II (1695–1703) dan kakanda dari Osman III
(1754–57).Mahmud I diakui sebagai sultan oleh pemberontak begitupun pejabat
pengadilan namun beberapa minggu setelah penobatannya negara berada di tangan
pemberontak. Ketua mereka, Patrona Halil, berpacu
dengan sultan baru ke Masjid Eyub di mana upacara Mahmud I yang segera mulai
dengan pedang Othman dilaksanakan; banyak perwira kepala yang didepak dan
pengganti mereka yang diangkat atas perintah pemberontak yang pemberani yang
telah bertugas di tingkat Yennisari dan yang muncul
sebelum sultan bertelanjang kaki dan di seragam lamanya sebagai prajurit
biasa. Seorang jagal Yunani yang bernama Yanaki telah menghargai Patrona dan
meminjaminya uang selama 3 hari kekacauan. Patrona menunjukkan terima
kasihnya dengan memaksa Divan mengangkat Yanaki sebagai Hospodar Moldova.
Keangkaraan kepala pemberontak membuatnya tak lama didukung. Khan Krimea,
yang diancam mundur, berada di Istambul dan dengan asistennya Wazir Agung,
Mufti dan Aga Yeniceri berhasil membebaskan
pemerintahan dari perbudakan. Patrona dibunuh dalam kehadiran sultan setelah
sebuah Divan yang ia meminta perang mesti dideklarasikan terhadap Rusia.
Istri Yunaninya, Yanaki, dan 7.000 orang yang mendukungnya juga dihukum mati.
Kecemburuan yang dirasakan perwira Yenisari terhadap Patrona, dan kesiapan
mereka untuk membantu pengancurannya, banyak membantu pengerahan tenaga
pendukung Mahmud I dalam mengakhiri pemerintahan pemberontak setelah
berlangsung hampir 2 bulan.masa-masa akhir pemerintahan Mahmud I didominasi
perang dengan Persia dan Rusia.Mahmud
I mempercayakan pemerintahan kepada wazirnya dan
menghabiskan sebagian besar waktunya menyusun puisi.
|
|
18.
|
SULTAN USMAN III (1754-1757 M)
|
Osman III (bahasa Turki Ottoman: عثمان ثالث ‘Osmān-i sālis) (2 Januari 1699 – 30 Oktober 1757) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1754 hingga 1757.Adinda dari Mahmud I (1730–54) dan putra Mustafa II (1695–1703), Osman III sebenarnya pangeran tiada arti. Masa jabatannya yang pendek dicatat sebagai masa di mana intoleransi di antara nonmuslim (Orang Kristen dan Yahudi diminta mengenakan pakaian atau lencana khusus) bertambah dan kebakaran di Istanbul.Osman III menghabiskan sebagian besar hidupnya di tahanan, dan saat menjadi Sultan ia menunjukkan keanehan tingkah laku. Tak seperti sultan sebelumnya, ia benci musik, dan mengusir semua musikus keluar istana. Juga tinggal di "kafes", istana tahanan di "harem" yang berisi para budak rumah tangga wanita ia tak menyukai persahabatan dengan wanita, sehingga ia mengenakan sepatu besi agar tak melalui jalanan dengan wanita manapun. Dengan mengenakan sepatu itu mereka akan mendengarnya mendekat lalu menjauh | |
19.
|
Mustafa III (bahasa Arab: مصطفى الثالث) (lahir 28 Januari 1717,
meninggal 21 Januari 1774) adalah sultan Kesultanan
Usmaniyah. Seorang
penguasa yang bersemangat dan cerdik, Mustafa III mencoba memodernkan pasukan
dan mesin dalam negeri untuk membawa negerinya sama dengan Kuasa Eropa. Ia
melindungi layanan jenderal asing untuk mengawali reformasi infantri dan
artileri. Sultan juga memerintahkan pendirian Akademi Matematika, Navigasi,
dan Sains. Sayangnya negara Ottoman telah menurun begitu jauh. Sadar akan
lemahnya militer negerinya, Mustafa III menghindari perang dan tak sanggup
mencegah aneksasi Krimea oleh Katarina
II dari Rusia (1762–96). Namun, aksi ini, bersama
dengan agresi Rusia lebih lanjut di Polandia memaksa Mustafa III menyatakan perang
di St. Petersburg segera sebelum kematiannya. Dalam
serangkaian korespondensi antara pemikir Prancis terkemuka Voltairedan Katarina
yang Agung, Mustafa
III selalu menjadi bahan ejekan, dan Voltaire menyebutnya "gemuk dan
bodoh". [1]Mustafa memiliki 2 putera yang bernama Selim dan Mohammed. Ia juga memiliki 5
puteri.
|
||
20.
|
SULTAN ABDUL HAMID (1774-1789 M)
|
Abd-ul-Hamid
I (20 Maret 1725 - 7 April 1789) adalah
sultan Turki Ottoman dari 1774 hingga
kematiannya.Abd-ul-Hamid I adalah seorang penguasa yang lemah. Perang
diumumkan terhadap Kekaisaran Rusia dan kurang dari setahun ia naik tahta, pasukannya
kalah dalam Pertempuran Kozluja yang membuat Turki Usmani terpaksa menandatangani Perjanjian Küçük Kaynarca pada tanggal 21 Juli 1774. Meskipun
banyak kelemahan, ia dipandang sebagai sultan paling berhasil di negaranya
karena ia membentuk pasukan pemadam kebakaran, menjalankan kebijakan reformasi, perbaikan
militer, naiknya standar pendidikan, dll.Abd-ul-Hamid I kemudian berhasil
meredam sejumlah pemberontakan di sejumlah provinsi, namun ia kehilangan Krimea setelah
berperang melawan Rusia, 2 tahun sebelum kematiannya.
|
|
21.
|
SULTAN SELM III (1789-1807 M)
|
Sultan Selim III (lahir di Istanbul, 24 Desember 1761 – meninggal di Istanbul, 28 Juli 1808 pada umur 46 tahun) adalah Sultan Turki Usmani, ananda dari Mustafa III dan menggantikan pamandanya Abd-ul-Hamid I. Ia memerintah antara 7 April 1789 hingga 29 Mei 1807. Seorang pecinta musik, Sultan Selim III juga seorang komponis dan pemain sandiwara yang bagus. Pasukan Yennisari menggulingkan Sultan Selim III dan ia digantikan oleh keponakannya Mustafa IV. Selim III sendiri meninggal akibat dibunuh. | |
22.
|
SULTAN MUSTHOFA IV (1807-1808 M)
|
![]() |
Mustafa IV (bahasa
Turki Ottoman: مصطفى
رابع Muṣṭafā-yi rābi‘,
lahir diIstanbul, 8 September 1779 – meninggal di Istanbul, 15 November 1808 pada umur 29 tahun) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1807 hingga 1808. Ayahandanya adalah Abdülhamid I (1774–89). Selama masa pemerintahan Selim III (1789–1807), Mustafa dianggap
menguntungkan oleh Sultan.Namun, saat pemberontakan yeniçeri merebak pada masa Selim III, Mustafa
membangkang terhadap Sultan dan mendukung yeniceri yang menjatuhkan Sultan tua, dan
membuat Mustafa IV sebagai penguasa baru. Namun, simpati buat Selim III terus
berlangsung, dan pada 1808 sebuah pasukan di bawah Mustafa Bayrakdar berangkat ke Istanbul untuk mengembalikan Selim III ke
tahta..
|
23.
|
SULTAN MAHMUD II (1808-1839 M)
|
Sultan
Mahmud II (1784-1839) ialah khalifah Turki Utsmani antara 1808-1839. Ia
adalah Khalifah yang mendorong Dunia Islam meniru Barat.Di Bawah
kepemimpinannya sebagai Daulah Islamiyah Ustmaniyah (Benteng umat Islam)
Turki Utsmani sangat maju pesat dan Negara Maju. Di zamannya, khilafah mulai
mengadopsi peraturan perundangan dari Eropa (Tanzimat Revolution).
|
|
24.
|
SULTAN ABDUL MAJID I (1839-1861 M)
|
Abd-ul-Majid I (bahasa Arab:
عبد المجيد الأول) (ejaan lain 'Abd ül-Mecid, Abdülmecit dan Abd-ul-Mejid)
(23 April 1823 — 25 Juni 1861) adalah sultan Turki Usmani
dan menggantikan ayahnya Mahmud II
pada tanggal 2 Juli 1839.[1]
Masa pemerintahannya ditandai dengan bangkitnya nasionalisme
di negara itu dan menempa persekutuan dengan kekuatan utama Eropa. Abd-ul-Majid
I, adalah ayah dari 4 orang sultan (Murat V, Abdülhamit II,
Mehmet V
Reşat dan Mehmet VI Vahdeddin (sultan ke-2 sebelum pembubaran Turki
Usmani). Ia menitahkan pemugaran terhadap Hagia Sophia,
yang diawasi oleh arsitek Swiss Gaspar
Fossati. |
|
25.
|
SULTAN ABDUL AZIZ (1861-1876)
|
Abd-ul-Aziz (8 Februari 1830-1876)
ialah khalifah Turki
Utsmani yang
memerintah antara 1861-1876. Lahir tahun 1830.
Menduduki tahta 1861 dan dicopot dari kedudukannya 1876, dan 4
hari setelah pencopotannya meninggal. Banyak sejarawan yakin bahwa ia mati
syahid setelah anggota Turki Muda mengatur persekongkolan untuk membunuhnya
dan mengumumkan kematiannya. Ia mempersiapkan armada laut Utsmani yang
menggentarkan dengan menjadikannya armada nomor 3 di dunia saat itu, dan
meningkatkan kekuatan darat sampai 700.000 pasukan dengan persenjataan
terbaru. Ia membangun sekian sekolah penting, seperti sekolah pertambangan
dan pertanahan serta sekolah tinggi militer. Ia pernah berkunjung ke Mesir,
Perancis, Inggris, Prusia, Austria, dan Hongaria. Ia pergi ke Eropa untuk
memengaruhi Perancis membela khilafah Turki Utsmani, bukannya Rusia, di
samping menggalang kelompok Eropa untuk menghadapi kekuatan Rusia.Di zamannya
al-Ahkamul 'Adhiyah terbit di bawah pengawasan Ahmad Jawdat Pasha,
serta Terusan Suez dibuka.
|
|
26.
|
SULTAN MURAD V (1876 M)
|
Murad V ialah khalifah Turki
Utsmani yang memerintah pada 1876. Lahir 1840 dan menjadi sultan saat berusia 36 tahun. Ia
memerintah hanya 93 hari
dan meninggal 1904.
Ia amat menyukai dan mencintai musik serta menguasai Bahasa
Prancis. Ia berhubungan erat dengan anggota Turki Muda dan menolongnya,
materiil maupun moril. Ia masuk Freemasonry
saat di London,
dan mencapai kekuasaan kesultanan setelah Sultan Abd-ul-Aziz
digulingkan Turki Muda yang dipimpin Midhat
Pasha. Ia menderita penyakit gila dan muncullah pemberontakan untuk
menggulingkannya, dan menggantikannya dengan Abdul
Hamid II. Sebagian pemberontak kemudian memberontak lagi untuk mengangkat
Murad V, namun dikalahkan lagi.
|
|
27.
|
SULTAN ABDUL HAMID II
(1876-1909 M)
|
Sultan Abd-ul-Hamid II (21 September 1842–10 Februari 1918) ialah sultan (khalifah) ke-27 yang memerintah Daulah Khilafah Islamiyah Turki Utsmani. Abd-ul-Hamid menggantikan saudaranya Sultan Murad V pada 31 Agustus 1876. Pada 1909 Sultan Abd-ul-Hamid II dicopot kekuasaannya melalui kudeta militer, sekaligus memaksanya untuk mengumumkan sistem pemerintahan perwakilan dan membentuk parlemen untuk yang kedua kalinya. Ia diasingkan ke Tesalonika, Yunani. Selama Perang Dunia I, ia dipindahkan ke Istana Belarbe. Pada 10 Februari 1918, Abd-ul-Hamid II meninggal tanpa bisa menyaksikan runtuhnya institusi Negara Khilafah (1924), suatu peristiwa yang dihindari terjadi pada masa pemerintahannya. Ia digantikan oleh saudaranya Sultan Muhammad Reshad (Mehmed V) . Jalur kereta api Hijaz yang menghubungkan antara Damaskus dengan Madinah dioperasikan. Rencananya, Jalur ini akan dihubungkan sampai Mekkah dan Jeddah. Namun karena keterbatasan dana dan sering adanya gangguan dari para pemuka suku setempat, jalur ini hanya dihubungkan sampai dengan Madinah. Keberadaan Jalur ini sangat mempermudah kelancaran jamaah haji dengan sarana transportasi modern saat itu. Berbeda dengan jalur di Timur Tengah lainnya seperti halnya Jalur kereta api Baghdad, Jalur kereta api ini dibangun tanpa bantuan dari luar negeri khususnya kekaisaran Jerman. | |
28.
|
SULTAN MEHMED RESAT (1909-1918 M)
|
Sultan
Mehmed Resat (bergelar Khalifah
Muhammad Al Rishad V; lahir 2 November
1844 – meninggal
3 Juli 1918 pada umur 73 tahun)
ialah khalifah Turki Utsmani
yang memerintah antara 1909-1918. Ia menduduki Kursi Kekhalifahan setelah
penggulingan Khalifah Abdul Hamid II dari tahta pada usia 65 tahun. Ia belajar 2 tsaqofah,
Timur dan Barat. Ia menjadi Khalifah pertama yang memerintah di bawah
perjanjian al-Masyruthiyah Party Union Progessdan tak
memiliki kekuasaan mutlak, dan membiarkan jalannya pemerintahan berada pada Orang - Orang Sekular. Pada masanya terjadi Perang
Tripoli (1911) antara Ottoman dan
orang-orang Libya
melawan Italia,
kemudian Perang Kemerdekaan Eropa Timur / Perang Balkan I (1912) antara Khilafah Ottoman melawan Nasionalis Yunani, Nasionalis Bulgaria, Nasionalis Serbia, Nasionalis Romania, Nasionalis Bosnian, dan Nasionalis Montenegro Negara tersebut menuntut Kemerdekaannya, lalu Perang Dunia I (1914—1918) kala Perang Dunia I Khilafah Ottoman berada di blok
sentral dengan Jerman melawan sekutu.Beliau adalah Khalifah yang terakhir
menyerukan JIHAD kepada kaum Muslimin untuk bangkit melawan Kolonialisme. |
|
29.
|
SULTAN MEHMED VI (1918-1922 M)
|
Mehmed VI (bahasa Arab:
محمد السادس), nama asli Mehmed Vahdettin atau Mehmed Vahideddin,
(14 Januari
1861 – 16 Mei 1926) ialah khalifah ke-40 Turki Utsmani,
menjabat antara tahun 1918–1922. Ia juga Khalifah Islam ke-100. Saudara Mehmed V Resat, ia naik tahta akibat bunuh dirinya Yusuf
Izzetin, pewaris tahta. Ia bertahta
mulai tanggal 4 Juli 1918, sebagai padishah ke-36. |
|
30.
|
SULTAN ABDUL MAJID (1922-1924)
|
Abdul Majid lahir 29 Mei 1868 meninggal 23 Agustus 1944 ia menjabat dari 19 November 1922 – 3 Maret 1924) ialah kalifah terakhir Turki Utsmani, khalifah ke-101 sejak Abu Bakar.Lahir pada 29 Mei 1868 di Istana Dolmabahçe di Istanbul (bekas Konstantinopel) dari Sultan Abd-ul-Aziz. Ia dididik secara pribadi. Pada 4 Juli 1918 saudaranya Mehmed VI menjadi Sultan. Menyusul pendepakan sepupunya dari tahta pada 1 November 1922 jabatan sultan dihapuskan. Namun pada 19 November 1922, ia diangkat sebagai khalifah oleh Majelis Nasional Turki di Ankara. Ia memerintah dari Istanbul, pada 24 November 1922. Pada 3 Maret 1924 ia diturunkan dan diusir dari Turki bersama dengan sisa keluarganya.Pada 23 Desember 1896 ia menikah buat pertama kalinya di Istana Ortaköy dengan Shahsuvar Bash Kadin Effendi (Istanbul 2 Mei 1881 – Paris 1945). Mereka memiliki seorang putra, Shehzade Ömer Faruk Effendi (27 Februari 1898 – 28 Maret 1969).Pada 18 Juni 1902 ia menikah untuk kedua kalinya di Istana Ortaköy dengan Hair un-nisa Kadin Effendi (terlahir: Panderma, 2 Maret 1876; meninggal: Nice, 3 September 1936). Mereka memiliki seorang putri, Hadice Hayriye Ayshe Dürrühsehvar (26 Januari 1914 – 7 Februari 2006) yang menikah dengan Azam Jah, putra Nizam Hyderabad terakhir.Pada 16 April 1912 ia menikah untuk ketiga kalinya di Istana Çamlica dengan Atiya Mihisti Kadin Effendi (lahir di Adapazari, 27 Januari 1892 – London, 1964). Ia adalah saudari Kamil Bey.Pada 21 Maret 1921 ia menikah untuk keempat kalinya di Istana Çamlica dengan Bihruz Kadin Effendi (lahir: Izmir, 24 Mei 1903).Pada 23 Agustus 1944 Abdul Mejid II meninggal di kediamannya di Boulevard Suchet, Paris XVIe, Perancis. Ia dimakamkan di Haram-i-Sharif, Madinah, Arab Saudi. |





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar